Golden Globes dulunya adalah malam. Memang tidak seberat Oscar, tapi dengan lebih banyak sampanye. Kurang pengap. Lebih menyenangkan. Tapi zaman itu? Ini rumit sekarang.

Penghargaan ini, yang diberikan setiap tahun oleh Hollywood Foreign Press Association (HFPA), seharusnya memberikan penghargaan kepada film dan TV terbaik tahun ini. Penghargaan tersebut berada tepat di posisi kedua: kedua setelah Academy Awards untuk film dan Emmy untuk televisi. Anggap saja ini sebagai pesta pra-permainan industri, kecuali pesta tersebut dibatalkan untuk sementara waktu.

Tidak selalu tegang seperti ini. Globes dimulai pada tahun 1944, hanya menghormati film. Televisi baru mendapat perhatian pada tahun 1956. Selama beberapa dekade, televisi hanyalah sebuah acara mewah yang disiarkan televisi. Karpet merah. Candaan. Piala.

Lalu muncullah retakan.

HFPA menghadapi badai reaksi yang hebat. Tuduhan pelanggaran etika mulai menumpuk. Kritikus menunjukkan kurangnya keragaman di antara anggota. Siapa yang berhak memutuskan apa yang “luar biasa”? Jika ruangannya terlihat sama, jawabannya mulai terasa basi.

Golden Globes menghadapi berbagai kontroversi, termasuk tuduhan pelanggaran etika dan kritik terhadap kurangnya keberagaman di HFPA.

Ini bukan hanya tentang penghargaan. Ini tentang siapa yang memegang pena. Struktur HFPA mendapat pengawasan ketat. Jaringan menjeda siaran. Pengiklan menarik diri. Seluruh mesin terhenti.

Jadi mengapa itu penting? Karena Globes bukan sekedar pesta. Mereka adalah barometer bagi hati nurani Hollywood. Ketika organisasi di balik piala terlihat rusak, penghargaan yang mengilap terlihat sedikit membosankan.

Sejarahnya panjang. Kontroversi ini terjadi baru-baru ini. Dan pertanyaannya bukan hanya apakah penghargaan tersebut akan kembali. Apakah mereka akan merasakan hal yang sama.